Di tengah kegelapan kamar malam hari, cahaya kebiruan dari layar ponsel pintar sering kali menjadi satu-satunya sumber penerangan. Jempol terus bergerak aktif, mengusap layar ke atas tanpa henti, berpindah dari satu berita buruk ke berita buruk lainnya. Mulai dari kabar bencana alam, konflik geopolitik, resesi ekonomi, hingga unggahan tragis di media sosial. Meski informasi yang dibaca memicu rasa cemas, ketakutan, dan keputusasaan, jempol seolah enggan berhenti. Perilaku ini dikenal dengan istilah doomscrolling, sebuah fenomena di mana seseorang secara kompulsif terus-menerus mengonsumsi berita negatif di media sosial atau internet, meskipun ia menyadari bahwa konten tersebut berdampak buruk pada kesehatan mentalnya. Bagi Generasi Z dan Milenial, doomscrolling telah bergeser dari sekadar kebiasaan buruk menjadi krisis kesehatan mental yang terselubung. Di balik kemudahan akses informasi, generasi muda kini berada di baris terdepan dalam menghadapi gempuran kecemasan massal yang dipicu oleh aktivitas digital ini.
Secara psikologis, dorongan untuk terus membaca berita buruk berakar dari bias negativitas yang dimiliki otak manusia secara evolusioner. Otak kita dirancang untuk peka terhadap ancaman demi bertahan hidup. Di era digital, ancaman fisik purba tersebut tergantikan oleh rentetan berita buruk di media sosial. Otak memperlakukan berita negatif sebagai ancaman yang harus dipahami dan diwaspadai, sehingga mendorong kita untuk terus mencari informasi lebih lanjut. Kondisi ini diperparah oleh desain platform digital melalui algoritma yang mengikat serta fitur infinite scroll. Algoritma media sosial sengaja menyuapi pengguna dengan konten yang memicu emosi kuat seperti kemarahan dan ketakutan karena konten tersebut memicu interaksi paling tinggi. Sementara itu, ketiadaan batasan halaman pada fitur infinite scroll menghilangkan penanda alami untuk berhenti, menjadikan aktivitas mengusap layar berlangsung secara tanpa sadar.
Paparan informasi negatif yang konstan ini membawa dampak signifikan terhadap kondisi psikologis generasi muda. Pertama, doomscrolling memicu kecemasan berkelanjutan karena tubuh terus-menerus melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin seolah ancaman yang dibaca sedang terjadi di depan mata. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkembang menjadi kecemasan kronis dan perasaan bersalah saat mencoba beristirahat. Kedua, fenomena ini berkaitan erat dengan Fear of Missing Out atau rasa takut tertinggal informasi. Rasa wajib untuk selalu memperbarui informasi justru menjebak mereka dalam berita krisis iklim, ketidakpastian ekonomi, dan persaingan kerja yang ketat, yang pada akhirnya memicu kecemasan eksistensial bahwa masa depan mereka suram. Ketiga, kebiasaan mengusap layar sebelum tidur merusak kualitas tidur akibat paparan cahaya biru dan lonjakan kecemasan, yang kemudian menciptakan lingkaran setan peningkatan risiko depresi di hari berikutnya.
Perbedaan antara konsumsi informasi yang sehat dan doomscrolling dapat terlihat jelas dari berbagai sisi. Ketika seseorang mengonsumsi informasi secara sehat, ia memiliki tujuan yang jelas untuk mencari fakta atau solusi, membatasi durasi bacanya secara terukur, serta merasakan dampak emosional berupa ketenangan dan rasa siap bertindak dengan kondisi fisik yang tetap rileks. Sebaliknya, doomscrolling terjadi akibat dorongan impulsif tanpa tujuan yang jelas dan berlangsung berjam-jam tanpa disadari. Aktivitas ini meninggalkan perasaan cemas, lelah, kewalahan, dan tidak berdaya, yang sering kali disertai dengan gejala fisik seperti mata lelah, leher tegang, hingga jantung yang berdebar.
Menghadapi fenomena ini bukan berarti kita harus mengisolasi diri dari dunia luar atau menjadi apatis terhadap isu-isu sosial, melainkan mengambil kembali kendali atas cara dan waktu kita mengonsumsi informasi. Langkah praktis dapat dimulai dengan menetapkan batasan digital yang tegas, seperti memanfaatkan pengatur waktu aplikasi dan memberlakukan area bebas ponsel di meja makan serta kamar tidur sebelum tidur. Selanjutnya, de-eskalasi algoritma perlu dilakukan dengan aktif memilih opsi tidak tertarik pada konten yang memicu kecemasan dan mengalihkan perhatian ke akun-akun yang menyajikan edukasi positif atau hiburan menenangkan. Praktik mengusap layar secara sadar juga penting untuk menghentikan refleks impulsif dengan selalu mempertanyakan tujuan dan dampak emosional sebelum membuka aplikasi. Terakhir, mengalihkan energi kecemasan menjadi tindakan nyata seperti bergabung dalam komunitas lokal atau beraksi sosial dapat memberikan rasa kendali yang efektif mengikis rasa cemas.
Doomscrolling adalah cermin dari bagaimana teknologi dapat mengeksploitasi kerentanan psikologis manusia jika tidak disikapi dengan bijak. Bagi generasi muda, menyadari bahwa diri sendiri sedang terjebak dalam lingkaran layar gelap ini adalah langkah awal yang sangat krusial. Dunia memang tidak pernah sepi dari berita buruk, tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan seberapa banyak berita tersebut boleh masuk dan merusak ketenangan pikiran kita. Mengambil jarak dari layar bukanlah bentuk kepedulian yang luntur, melainkan sebuah tindakan penyelamatan diri karena untuk bisa peduli pada dunia, kita harus terlebih dahulu menjaga warasnya pikiran kita sendiri.
