SerentakBerkarya
Berdampak Nyata

Knowledge is not a privilege, but knowledge is everyone's right

Di Seraya, kami
mewujudkan berbagai program Kolaborasi & Langkah NyataInovasianak muda termasukEdukasiberbasis kreativitas

STORIES

News
Seraya.

Temukan inspirasi, gagasan segar, dan rekam jejak kolaborasi hebat pemuda Indonesia.

Umum

Literasi Keuangan Digital: Manfaat dan Cara Meningkatkannya

Kemudahan akses layanan keuangan digital telah membuka banyak peluang bagi masyarakat untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak. Namun, semakin banyaknya pilihan aplikasi, metode pembayaran, dan produk keuangan digital juga menuntut masyarakat untuk lebih cermat dalam mengambil keputusan finansial. Oleh karena itu, memiliki literasi keuangan digital yang baik menjadi bekal penting agar setiap transaksi dan keputusan keuangan dapat dilakukan secara lebih tepat. Untuk itu, mari mengenal lebih jauh tentang literasi keuangan digital, manfaat, serta contoh produknya di artikel ini. Apa Itu Literasi Keuangan Digital? Di tengah pesatnya penggunaan teknologi tersebut, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memahami dan menggunakan layanan keuangan digital secara tepat. Kemampuan ini dikenal sebagai literasi keuangan digital atau digital financial literacy (DFL), yaitu pengetahuan dan keterampilan dalam mengakses, memanfaatkan, serta mengevaluasi berbagai produk dan layanan keuangan berbasis teknologi. Kehadiran layanan keuangan digital turut memperluas akses masyarakat terhadap berbagai produk keuangan, termasuk bagi kelompok yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses ke layanan perbankan. Manfaat Literasi Keuangan Digital Literasi keuangan digital memberikan banyak manfaat bagi masyarakat di tengah semakin luasnya penggunaan layanan keuangan berbasis teknologi. Berikut ini beberapa manfaat yang bisa diperoleh masyarakat ketika memiliki pemahaman yang baik terkait layanan keuangan digital. 1. Memudahkan Akses dan Transaksi Keuangan Salah satu manfaat utama literasi keuangan digital adalah membantu masyarakat memanfaatkan layanan keuangan dengan lebih mudah dan praktis. Berbagai aktivitas transaksi, seperti pembayaran tagihan, transfer dana, belanja online, hingga investasi dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja melalui perangkat digital tanpa perlu mengunjungi kantor layanan secara langsung. 2. Mendukung Inklusi Keuangan Literasi keuangan digital turut mendorong semakin banyak masyarakat untuk mengakses layanan keuangan formal. Kehadiran aplikasi perbankan, dompet digital, dan berbagai platform keuangan lainnya membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh layanan keuangan yang lebih cepat, mudah, dan terjangkau. 3. Membantu Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi Seiring meningkatnya penggunaan metode pembayaran nontunai, pemahaman terhadap layanan keuangan digital juga semakin penting. Hal ini dapat membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan kebiasaan transaksi serta memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung kebutuhan finansial sehari-hari. 4. Mendorong Inovasi Layanan Keuangan Meningkatnya pengetahuan dan minat terhadap layanan keuangan digital juga mendorong lembaga jasa keuangan untuk terus berinovasi. Berbagai produk dan layanan digital terus dikembangkan guna memberikan pengalaman yang lebih efisien bagi pengguna. 5. Membantu Mengambil Keputusan Finansial dengan Lebih Bijak Literasi keuangan digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi. Hal ini juga terkait dengan pemahaman terhadap manfaat, biaya, risiko, dan keamanan setiap layanan digital yang digunakan. Dengan pengetahuan tersebut, masyarakat dapat memilih produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan serta membuat keputusan finansial yang lebih tepat untuk jangka panjang. Cara Meningkatkan Literasi Keuangan Digital Meningkatkan literasi keuangan digital merupakan langkah penting agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan berbasis teknologi secara aman dan optimal. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan: 1. Mengikuti Edukasi Keuangan Manfaatkan berbagai program edukasi yang diselenggarakan oleh lembaga keuangan, regulator, maupun komunitas keuangan. Seminar, webinar, artikel edukatif, dan pelatihan keuangan dapat membantu menambah wawasan mengenai produk, layanan, serta tren keuangan digital yang terus berkembang. 2. Memastikan Legalitas Platform yang Digunakan Sebelum menggunakan aplikasi atau layanan keuangan digital, pastikan platform tersebut telah memiliki izin dan berada di bawah pengawasan otoritas yang berwenang, seperti OJK. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko penipuan dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pengguna. 3. Memahami Produk, Biaya, dan Risiko Layanan Jangan terburu-buru menggunakan layanan keuangan hanya karena menawarkan kemudahan atau promo menarik. Luangkan waktu untuk mempelajari fitur, biaya layanan, suku bunga, risiko, serta kebijakan privasi yang berlaku agar dapat membuat keputusan yang lebih tepat. 4. Memanfaatkan Fitur Pengelolaan Keuangan Digital Berbagai aplikasi keuangan kini dilengkapi fitur pencatatan dan pemantauan pengeluaran. Pemanfaatan fitur tersebut dapat membantu pengguna mengatur anggaran, memantau kondisi keuangan, serta membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. 5. Memahami Hak dan Kewajiban sebagai Konsumen Selain memahami cara menggunakan layanan keuangan digital, penting juga untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai pengguna. Hal ini mencakup perlindungan data pribadi, mekanisme pengaduan, dan regulasi yang mengatur layanan tersebut sehingga pengguna dapat bertransaksi dengan nyaman dan jelas.

Baca Berita
Featured

SNLIK 2026: Akses Keuangan Meningkat, Literasi Terus Diperkuat

12 Agustus 2026 | Kegiatan Statistik Hasil SNLIK 2026 memperlihatkan perkembangan positif pada kondisi literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia. Indeks Literasi Keuangan nasional mencapai 69,57 persen, meningkat dari 66,64 persen pada 2025. Sementara itu, Indeks Inklusi Keuangan mencapai 93,61 persen, naik dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, masih terdapat peluang besar untuk terus memperkuat literasi keuangan masyarakat. Seiring semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan, pemahaman masyarakat juga terus didorong. Sebanyak 62,51 persen pemilik rekening telah mengetahui program penjaminan simpanan, dan 46,31 persen telah mengetahui LPS. Hasil tersebut disampaikan dalam Rilis Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 di Kantor BPS (10/8) yang merupakan kerja sama BPS, OJK, dan LPS. Hasil SNLIK 2026 dipaparkan oleh Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti; Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi; serta Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, serta Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi.

Baca Berita
Featured

Terjebak Layar Gelap: Mengurai Fenomena Doomscrolling dan Kecemasan Gen Z

Di tengah kegelapan kamar malam hari, cahaya kebiruan dari layar ponsel pintar sering kali menjadi satu-satunya sumber penerangan. Jempol terus bergerak aktif, mengusap layar ke atas tanpa henti, berpindah dari satu berita buruk ke berita buruk lainnya. Mulai dari kabar bencana alam, konflik geopolitik, resesi ekonomi, hingga unggahan tragis di media sosial. Meski informasi yang dibaca memicu rasa cemas, ketakutan, dan keputusasaan, jempol seolah enggan berhenti. Perilaku ini dikenal dengan istilah doomscrolling, sebuah fenomena di mana seseorang secara kompulsif terus-menerus mengonsumsi berita negatif di media sosial atau internet, meskipun ia menyadari bahwa konten tersebut berdampak buruk pada kesehatan mentalnya. Bagi Generasi Z dan Milenial, doomscrolling telah bergeser dari sekadar kebiasaan buruk menjadi krisis kesehatan mental yang terselubung. Di balik kemudahan akses informasi, generasi muda kini berada di baris terdepan dalam menghadapi gempuran kecemasan massal yang dipicu oleh aktivitas digital ini. Secara psikologis, dorongan untuk terus membaca berita buruk berakar dari bias negativitas yang dimiliki otak manusia secara evolusioner. Otak kita dirancang untuk peka terhadap ancaman demi bertahan hidup. Di era digital, ancaman fisik purba tersebut tergantikan oleh rentetan berita buruk di media sosial. Otak memperlakukan berita negatif sebagai ancaman yang harus dipahami dan diwaspadai, sehingga mendorong kita untuk terus mencari informasi lebih lanjut. Kondisi ini diperparah oleh desain platform digital melalui algoritma yang mengikat serta fitur infinite scroll. Algoritma media sosial sengaja menyuapi pengguna dengan konten yang memicu emosi kuat seperti kemarahan dan ketakutan karena konten tersebut memicu interaksi paling tinggi. Sementara itu, ketiadaan batasan halaman pada fitur infinite scroll menghilangkan penanda alami untuk berhenti, menjadikan aktivitas mengusap layar berlangsung secara tanpa sadar. Paparan informasi negatif yang konstan ini membawa dampak signifikan terhadap kondisi psikologis generasi muda. Pertama, doomscrolling memicu kecemasan berkelanjutan karena tubuh terus-menerus melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin seolah ancaman yang dibaca sedang terjadi di depan mata. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkembang menjadi kecemasan kronis dan perasaan bersalah saat mencoba beristirahat. Kedua, fenomena ini berkaitan erat dengan Fear of Missing Out atau rasa takut tertinggal informasi. Rasa wajib untuk selalu memperbarui informasi justru menjebak mereka dalam berita krisis iklim, ketidakpastian ekonomi, dan persaingan kerja yang ketat, yang pada akhirnya memicu kecemasan eksistensial bahwa masa depan mereka suram. Ketiga, kebiasaan mengusap layar sebelum tidur merusak kualitas tidur akibat paparan cahaya biru dan lonjakan kecemasan, yang kemudian menciptakan lingkaran setan peningkatan risiko depresi di hari berikutnya. Perbedaan antara konsumsi informasi yang sehat dan doomscrolling dapat terlihat jelas dari berbagai sisi. Ketika seseorang mengonsumsi informasi secara sehat, ia memiliki tujuan yang jelas untuk mencari fakta atau solusi, membatasi durasi bacanya secara terukur, serta merasakan dampak emosional berupa ketenangan dan rasa siap bertindak dengan kondisi fisik yang tetap rileks. Sebaliknya, doomscrolling terjadi akibat dorongan impulsif tanpa tujuan yang jelas dan berlangsung berjam-jam tanpa disadari. Aktivitas ini meninggalkan perasaan cemas, lelah, kewalahan, dan tidak berdaya, yang sering kali disertai dengan gejala fisik seperti mata lelah, leher tegang, hingga jantung yang berdebar. Menghadapi fenomena ini bukan berarti kita harus mengisolasi diri dari dunia luar atau menjadi apatis terhadap isu-isu sosial, melainkan mengambil kembali kendali atas cara dan waktu kita mengonsumsi informasi. Langkah praktis dapat dimulai dengan menetapkan batasan digital yang tegas, seperti memanfaatkan pengatur waktu aplikasi dan memberlakukan area bebas ponsel di meja makan serta kamar tidur sebelum tidur. Selanjutnya, de-eskalasi algoritma perlu dilakukan dengan aktif memilih opsi tidak tertarik pada konten yang memicu kecemasan dan mengalihkan perhatian ke akun-akun yang menyajikan edukasi positif atau hiburan menenangkan. Praktik mengusap layar secara sadar juga penting untuk menghentikan refleks impulsif dengan selalu mempertanyakan tujuan dan dampak emosional sebelum membuka aplikasi. Terakhir, mengalihkan energi kecemasan menjadi tindakan nyata seperti bergabung dalam komunitas lokal atau beraksi sosial dapat memberikan rasa kendali yang efektif mengikis rasa cemas. Doomscrolling adalah cermin dari bagaimana teknologi dapat mengeksploitasi kerentanan psikologis manusia jika tidak disikapi dengan bijak. Bagi generasi muda, menyadari bahwa diri sendiri sedang terjebak dalam lingkaran layar gelap ini adalah langkah awal yang sangat krusial. Dunia memang tidak pernah sepi dari berita buruk, tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan seberapa banyak berita tersebut boleh masuk dan merusak ketenangan pikiran kita. Mengambil jarak dari layar bukanlah bentuk kepedulian yang luntur, melainkan sebuah tindakan penyelamatan diri karena untuk bisa peduli pada dunia, kita harus terlebih dahulu menjaga warasnya pikiran kita sendiri.

Baca Berita
Kuis Interaktif

Tantang Dirimu, Temukan Peranmu!

Seberapa jauh kamu memahami isu-isu sosial di sekitarmu? Uji pengetahuanmu dan temukan inisiatif apa yang paling cocok untuk kamu perjuangkan bersama Seraya.

Tanya Seraya AI